Senin, 23 Februari 2015

:')

Yang... bertahanlah sedikit lagi
sampai ku lupa rasa sakitnya
ketahuilah, ku ingin memperbaikinya
dengan tidak ada dengki di dalam hubungan kita
ingin ku pastikan ku masih punya rasa untuk di perjuangkan
setulus yang dulu.. tanpa diselimuti kekecewaan
inginku mencoba sekali lagi jatuh cinta
layaknya cinta kemarin yang tak hentinya membuatku menjadi setegar ini
yang.. ketahuilah
setiap kata yang terucap yang membuatmu sakit lebih menyakitkan untukku
semua hal yang membuatmu merasa bersalah sungguh membuatku tak berdaya
sungguh tak sanggup melihatmu menanggungnya
ku hanya ingin kau berubah
tak mengulangi kesalahan yang sama
bisakah kau sedikit bertahan?
dan tak ungkapkan kata menyerah?

nyoret lagi

Sekarang
Semenjak saat itu
Tak ku pungkiri rasa ini remukkan jiwaku
hancurkan mimpiku
butakan masa depanku

kini
melihatnya membuatku ingin buta
mendengarnya membuatku ingin tuli
ucapannya membuatku ingin bisu

Tuhan
Jangan kau berikan rasa benci di hatiku
Jangan kau buat ku lebih kejam dari sikapnya
Jangan kau bukakan ku jalan untuk menyakitinya



Kamis, 19 Februari 2015

Perempuan ini

Tuhan
Aku ini APA ??
jika kamu masih mengingat Dia, dan kamu masih berhubungan dengan Mereka

Selalu berusaha tidak mempunyai perilaku seperti itu
Selalu dengan rasa takut jika ingin membalas sikamu yang dulu
Selalu berdoa yang terbaik untuk kita

Mungkin karena aku bukan milikmu dan kamu bukan milikku
Tak pantas rasanya mempunyai rasa sayang dan cemburu
Kini hanya fokus memilikiNya
yang tak akan pernah meninggalkanku


Sabtu, 14 Februari 2015

Bebas kan dirimu

Semuanya menegur
Teman, sahabat, mereka yang mengenal januari dahulu
Januari pun tak yakin, ini adalah sosok nya sekarang
Begitu lemah dan rapuh
Mengapa begitu menaruh rasa, begitu cengeng tingkahnya
Hanya fikiran pendek, dan harapan di genggamannya
Tanpa sebuah cita-cita
Dia begitu pasrah, hanya bisa menunduk tatkala ada orang yang menyakitinya
Dia dengan mudahnya, siang dan malam menangisi hal yang tak patut untuk di perluangkannya
Berapa kali ia , mengumpulkan tekadnya, namun tak jua berhasil
bukan karena tak ada usaha, namun ia dengan mudahnya menyerah
Betapa sia-sianya jika tak ada hasil yang kau dapatkan
Begitu berjuangnya dirimu, namun tak ada kebagiaan d senyummu
Kau tutupi semuanya, supaya kau masih dapat melihatnya
nah, kuatkan dirimu..
Lepaskan dari genggaman erat itu
Kau pantas untuk bersedih
Untuk mendapatkan kebahagiaan akhirnya

Rindu

Rindu
Wujud perasaan yang mendalam
Menuai kasih sayang dan kekecewaan sekaligus
Kini menghadirkan tawa dan tangis di waktu bersamaan
Menciptakan harapan dan asa

Merindu
akan berakhir bahagia jika kau mampu membuatnya menoleh
berujung kekecewaan jika dia pun merindu, namun tak kunjung bersatu

Rindu ini membuatku arah, ingin memberontak, menangis
yang terungkapkan hanya emosi
namun rindu ini kian bersemi di hati
namun tak kunjung menampakkan maksud

yang ku genggap ini adalah sebuah rasa
yang tak mungkin kau tahu
aku yang merindu

Coretan


Ada rasa sesak yang menjalar
Rasa takut mengakar
Apa salahku? Hingga jatuh cinta pun  terasa begitu menyakitkan
Masihkah sulit menerima apa adanya??
Ataukah jalan yang berbeda??
Diriku kini tak mempersoalkan dia dan mereka
Karena kita itu aku dan kamu
Aku besujud
Air mata mengalir melewati bibir
Menangisi kesalahan demi kesalahan
Mungkin belum saatnya aku mendoakan tentang kita
Mungkin terlalu cepat untuk membicarakan tentang aku dan kamu
Terlalu mudah air mata ini jatuh untuk seseorang
Helaan napas panjang mungkin bisa membuatku tenang
Sedikit pengabaian mungkin dapat membuatku mengulang untuk memikirkannya
Nyatanya kini ku berbeda dari sebelumnya
Orang-orang itu benar
Mungkin karena jauh dari orang tua
Mungkin karena pergaulan kota
Membuatku lupa akan cita-cita dan harapan
Kini ku berbenah
Menghapus kesedihan dan kekecewaan diri sendiri
Kini hanya untuk allah dan orang tua
Tak akan ada tangis itu
Tasbih erat di genggamanku
Al-quran di tanganku
Merapal doa yang sama
Kutinggalkan dia karena dia
Biarkan cinta menemukan jalan pulang
Ketika hati memilih sang pemilik hati

Sabtu, 24 Januari 2015

Tak seharusnya januari bertingkah

Bangun dari mimpi buruk membuat januari takut. Suhu badannya mulai naik. Matanya berair namun tak kunjung meluapkannya ke pangkal pipinya. Tergerak hati ingin membuat suasana menjadi lebih baik, namun seseorang tak kunjung memberikan rasa aman nyaman malam itu. Alangkah tercengang melihat setumpukan pesan itu, membuat tak berdaya. Mungkin agustus belum mengenal sosok januari. Keluar dari keramaian, mencari ketenangan. namun januari salah...salah... hanya ia yang ingin memperhatikan keadaanya itu. ia tak memperhatikan keramaian yang ia tinggalkan.. sungguhlah wajar agustus bertanya-tanya dan ragu.
mimpi buruk itu menyadarkanku, bahwa tidak seharusnya januari menghilang dari keramaian dan terlelap tidur. sungguh tubuh ini sangat lelah dan tak terurus. yang januari fikirkan, bahagaimana ia harus berada di mana mereka membutuhkan kehadiran ini. akan mengupayakan hadir di samping mereka. mereka yang terkasih, sahabat.
Sahabat, mereka yang menyayangiku. Yang memberikan waktunya untukku. Yang selalu ku perjuangkan. Hanya saja januari sosok tertutup. Tempat berbagi cerita hanyalah dirinya sendiri, dan dia yang menjadi sahabat dan saudaranya dan kertas kosong lusuh itu.
Seperti ingin berbagi cerita, tapi mereka yang dengan gagahnya menolak dan tidak mau tahu. Dia sosok yang berbeda. Jika dia mengenal lebih jauh, sungguh januari ingin berbagi cerita dengannya. Walaupun tidak, semoga itu membuatnya mengert.
Mungkin itu terlihat kekanakan, sungguh januari sosok pendiam dengan tingkat keseriusan yang tinggi. Entah apa yang ada di fikiran agustus, saya tak tahu. dan saya tidak menyangka pertanyaan-pertanyaan atau kemauan itu.
januari sedih, air matanya mengering, tangisnya tak lagi terdengar. sungguh pukulan batin. entah apa yang harus januari katakan kepada sosok yang ia jaga hati dan perasaannya itu. bapak. mama.
anak gadisnya yang kedua itu mempunyai sosok yang berbeda di antara saudaranya. ia senang mengunci diri di kamar. jarang bergaul dengan tetangga dan teman-temannya. ia hanya senang tinggal di rumah. dia akan lari terbirit-birit mengunci diri di kamar jika ada seorang tamu datang ke rumah. dia akan betah menunggu di luar jika untuk menjemput mamanya di sekolah. dia akan amuk jika di perkenalkan dengan teman orang tuanya. dia paling benci ke pesta dan tempat ramai lainnya. sungguh hal yang ia benci sekarang, benci makan sendiri.
mama dan bapak sangat mengerti hal itu. malam itu, januari menjawab semua pertanyaan mamanya.. mengiyakan kata bapaknya. dan kali ini haruskah januari katakan, aku mengecewakannya ?? haruskah saya melihat mereka murung??
haruskah mereka menahan semuanya untukku?? jika ini harus, saya akan. Ini jalan yang kau pilih, dan saya akan. Hati orangtuaku, tak seharusnya, namun akan saya akan.
kejadian itu mungkin adalah karma. ialah kesalahanku di masa lalu yang kini terulang kembali, mengiris kembali, tak berdaya lagi, nangis lagi, menarik diri lagi, mungkin itu respon psikologinya.